Featured Article
Latest Post

Juli 31, 2015

Dering Telefon Sebelum Interview

Aku lupa tepatnya kapan kejadian ini terjadi. Ini bukan tentangku, bukan juga tentang keluargaku atau teman dekatku. Ini tentang seorang pelamar kerja di kantor tempatku bekerja.

Pagi itu sekitar jam 10, aku yang hobi sekali buang hajat di kantor, terburu - buru masuk ke salah satu pintu di dalam toilet. Ada 4 pintu rest room didalam toilet kantorku. Aku ingat, saat itu sepi, tidak ada seorangpun di toilet kecuali aku. Issue - issue horror tentang kejadian di toilet tidak menyuruti semangatku untuk tetap menuntaskan hajat walau dalam hati sebenarnya takut. Tanpa pikir panjang, aku masuk ke pintu nomor 2 dari pinggir. Selang sebentar, 2 orang wanita masuk, 1 diantaranya masuk ke pintu nomor 1 disebelahku, seorang lagi menunggu di westafel sambil bercermin. Menjaga penampilan memang sangat diperlukan saat kamu akan 'mempromosikan' dirimu pada calon kantormu.

 
Picture by Google

"Hallo, iya ibu wa'alaykumsalam, ada apa kenapa ibu menangis?".

"Bu? Hallo ibu masih disana?"

"Aku masih menunggu untuk di interview bu, aku belum bisa pulang sekarang".

"Iya, aku akan segera pulang setalah interview, tapi ibu kenapa menangis??? Tolong jawab aku, bu..."

Wanita bersuara lembut ini tidak sabaran lantaran ibunya tak juga memberi tahu apa yang tengah terjadi. Setengah marah, ia memanggil kakak lelakinya di telefon.

"Abang, ibu kenapa?" Lalu hening panjang.

Aku yang saat itu tengah 'khusyuk' di salah satu bilik toilet, terpaksa ikut mendengarkan. Firasat ku mengatakan, sesuatu pasti telah terjadi pada ayah / adik wanita itu. Aku ikut tegang mendengarkan percakapan wanita itu selanjutnya. Biarpun aku tak kenal dengannya, tapi berita duka membuat kita selalu berempati pada orang jahat sekalipun.

Selang beberapa lama, tangis wanita itu pecah. Temannya terburu - buru keluar toilet menuntaskan hajatnya. Benar saja apa yang aku takutkan. Firasat wanita ada kalanya selalu tepat. Ayah wanita itu meninggal. Wanita itu panik. Dia kalut, tidak tahu harus berbuat apa. Temannya pun ikut panik. Nasib baik sungguh sedang tidak berpihak pada wanita itu & temannya. Mereka berdua terpaksa pulang saat HRD kantorku memanggil mereka untuk melakukan interview.

Aku yang dari awal 'terpaksa' ikut mendengarkan yang terjadi pada dua wanita itu, tiba - tiba lemas & menangis. Membayangkan kalau hal buruk itu terjadi padaku. Tidak. Aku tidak mungkin sekuat wanita itu yang tidak pingsan seketika & segera pulang mengetahui ayahnya telah tiada. Segera ku hapus airmata ku, berjalan gontai kembali ke meja kerja sambil berdoa semoga ayahku selalu dilindungi Allah SWT dimanapun ia berada.

Juni 12, 2015

Malang, May 2015

Silahkan duduk manis dan ikuti ceritanya. Biarkan aku membawamu ke Timur Jawa, Malang, dan membuatmu mengenalnya lebih dekat.

14 May 2015, pukul 2:42 PM di Stasiun Pasar Senen Jakarta. Aku, seorang temanku, dan tiga sepupuku terburu - buru mengantri untuk pengecekan tiket di pintu stasiun karena kereta kami sudah menunggu dan siap berangkat. Tidak lucu rasanya jika kami sampai ketinggilan kereta mengingat hari itu hari yang ditunggu - tunggu berbulan - bulan lalu. Bukan, bukan tanpa sebab kami terlambat begini. Seorang sepupuku yang membawa tiket kami berlima telat datang dikarenakan hujan.
Malang, we're coming...

Kami sudah berada di kereta Matarmaja yang akan membawa kami ke Malang. Senja pukul 5:18 PM di sekitar Subang, Jawa Barat membangunkanku dari tidur pulas sesaat setelah kereta berangkat. Kami berlima terpisah tempat duduk, aku berdua Kak Uni bersebalahan, sedangkan tiga lainnya Kak Farah, Liysa, dan Julia bersebrangan duduk dengan aku dan Kak Uni. Tak ada yang bisa kami lakukan didalam kereta yang menjadi tempat istirahat kami selama 16 jam ke depan. Rasa lapar membuatku membuka mata, lantas membeli nasi ayam kepada penjual makanan didalam kereta., lalu makan, lalu tertidur lagi setelahnya.

Akhirnya, pukul 10:24 PM kami tiba di Semarang. Tak tahan duduk terus membuatku dan Kak Uni keluar kereta saat berhenti di stasiun Semarang Tawang ini. Konyol memang, demi untuk selembar foto di stasiun Semarang Tawang ini membuat aku dan Kak Uni hampir ketinggalan kereta kami. Tapi untungnya nasib baik masih berpihak pada kami. Alhamdulillah.

Malang, here we are! Berpose didepan Stasiun Malang Kota Baru menjadi kewajiban buat kami sebagai kenang - kenangan nantinya bahwa kami pernah menjejakkan kaki di stasiun ini. Please, abaikan muka kusam dan kelelahan kami.

Sesampainya di Malang, kami dijemput dengan buss pariwisata menuju sebuah pusat oleh - oleh. Disepanjang jalan menuju Pusat Oleh - Oleh Brawijaya, kami disungguhkan dengan pemandangan apik Kota Malang dengan jalan - jalannya yang rapih & bersih. Sepanjang kepala menoleh kiri - kanan tampak bangunan Universitas - Universitas kenamaan di Malang, satu yang paling bagus bangunannya & aku ingat, Universitas Islam Negeri Malang.

Woohooo! Inilah selfie pertama kami berlima setelah mandi & bersih - bersih di Malang. Penginapan kami terletak di daerah Batu, hanya perlu berjalan 2 menit untuk menuju BNS, Batu Night Spectacular dan Batu Zoo. Sayang, kami hanya sempat ke BNS mengingat waktu dan dana yang terbatas.
Dan inilah tiket masuk BNS dan Lampion Garden didalamnya. Sengaja kami abadikan sebagai kenang - kenangan.

This is it, Batu Night Spectacular (BNS) Malang!
Berpose didepan pintu masuk sebuah tempat wisata sudah menjadi keharusan setiap kali kami berwisata ke suatu tempat. Bukan... Bukan untuk ajang pamer. Hanya untuk mengingatkan diri sendiri bahwa setidaknya kami pernah menginjakkan kaki disana.

Anyway, selamat menikmati foto -foto dibawah ini. Dimana kesemua fotonya diambil saat kami berada di BNS. Aku & Kak Uni sempat menaiki sebuah wahana, Sepeda Gila namanya. OMG jangan ditanya seberapa histerisnya aku saat menaiki wahana itu. Turun dari Sepeda Gila, wajahku pias, pucat & langsung muntah seketika. Boom!











Puas bermain & berfoto di BNS, kami bergegas ke Pasar Tumpang menunggu jeep yang akan membawa kami ke Bromo untuk melihat sunrise.


Apa yang mencolok dari kedua foto diatas? Wajah lelah & berminyak kami? Oh jangan ditanya kalau hal itu. Lipstick merah kami? 100 buat kamu! Kedua foto diatas diambil kira - kira menjelang dini hari. Dengan wajah carut marut kami tetap mengabadikan moment menunggu jeep berjam - jam yang akan membawa kami ke Bromo. Lipstick merah menyala menjadi penyelamat! Thanks lipstick... Kau membuat wajah kami setidaknya terlihat lebih segar. HAHAHA




Seruni Point! Here we are! Penanjakan Seruni Point ramai sekali subuh itu. Ratusan orang menyiapkan gadget terbaiknya untuk menangkap kemunculan sang surya. Sayang, yang ditunggu - tunggu malah mengecewakan kehadirannya. Kemunculan sang surya pagi itu tidak se-spectacular kemunculan sang surya saat aku mendaki di Gunung Papandayan, Garut. Matahari Bromo malu - malu ragu menampakkan dirinya, membuat keluhan dan desahan panjang kami semua yang subuh itu berjalan terkantuk - kantuk, ditemani dengan kuda - kuda bromo dan kotorannya yang membuat udara pagi tercemar.

Selesai melihat sunrise di Penanjakan  Seruni Point, kami bergegas kembali ke jeep untuk kemudian menuju Kawah Bromo, Padang Savana, & Bukit Teletubbies. Siapkan sunblock, masker & kacamata hitam untuk kalian yang berencana kesana! Demi Tuhan... Bromo saat itu seperti oven & kami didalamnya seperti terpanggang hidup - hidup. Tapi memang dasarnya kami banci kamera narsisnya selangit, tak perduli udara sepanas apapun kami tetap rela turun dari jeep berpanas - panasan demi mengabadikan foto diri dengan latar Bromo yang manis.

















Sampai jumpa lagi, Malang...

Mei 22, 2015

Karena Ketinggian Bukan Ajang Untuk Mencari Perhatian

Dua hari lalu tepatnya tanggal 20 May 2015 karyawan dan karyawati yang cantik & ganteng di lantai 15 gedung SCTV Tower dikejutkan dengan kehadiran seorang aneh yang tiba - tiba berada di atap gedung Senayan City sedang bernarsis ria sambil memegang tongsis. Tau dong tongsis? Euforia tongsis sempat mewabah semua manusis didunia, dari harga ratusan ribu saat pertama kali keluar sampai sekarang hanya 35ribu. Berkat tongsis, kita dimudahkan untuk mengambil view atau pemandangan dibelakang kita sehingga membuat foto jadi lebih menarik walaupun objeknya  jelek.

Jadi begini ceritanya, saat sedang ngantuk - ngantuknya asik - asiknya bekerja, kami di lantai 15 dikejutkan dengan manusia berjenis kelamin laki-laki yang membawa tas dan tongsis, berbadan kurus, tinggi dan putih dan kayaknya sih ganteng. Si Mas Narsis ini (selanjutnya kita sebut dengan sebutan ini) berjalan dari titik kanan atap gedung menuju titik paling kiri demi mendapatkan foto yang bagus untuk kepentingan pribadinya. Entah apa visi dan misinya melakukan hal berbahaya tersebut, tanpa safety equipments Mas Narsis ini berpose seolah dirinya sedang berjemur dipinggir pantai dengan badannya dia rebahkan dipinggiran atap, pose lainnya seolah dia sedang berada di puncak gunung, berhasil menaklukan ketinggian tertentu. Hari berikutnya pun begitu, 21 May 2015 si Mas Narsis ini kembali hadir diatap Senayan City untuk mengabadikan dirinya diatas ketinggian lagi.

Oalah Mas - Mas... Situ masih waras opo ndak sih?

Ketinggian itu bukan ajang untuk mencari perhatian, juga bukan hal yang patut dibanggakan demi bisa mendapat pengakuan dari orang sekitar atau mendapat ribuan love di Instagram dan Path. Tidakkah kamu berkaca pada kasus Erri Yunanto yang jatuh tergelincir saat turun dari ketinggian Merapi? Atau malah mau jadi Erri selanjutnya?

Mas... Mas... Nyawamu terlalu berharga untuk dipertaruhkan demi selembar foto!

April 30, 2015

Wishlist



THINGS
  •  Personal Notebook (Done)
  •  Polaroid Camera
  •  DSLR Camera
  •  Mountain Bike
  •  Unlimited Hijabs (On Progress)
  •  Unlimited Shoes (On Progress)
  •  Unlimited Bags (On Progress)
  •  Unlimited Books (On Progress)
  •  A Pet
SCHOOL
  •  Finish Bachelor's Degree (Done)
  •  Take A Postgraduate In Language Field
  •  Take A Course In English, Japanese & German
WORK
  • Work In IT Field (Done)
  • Work As Civil Servant As My Dad Wanted
PLACE
  • Inside : Jogjakarta, Malang, Madiun, Semarang, Surabaya, Pekalongan, Banda Aceh, Belitung, Ternate, Raja Ampat, Bali, NTB, NTT.
  • Outside : Sydney, Japan, India, South Korea, Amsterdam, Istanbul, Vienna, Belgrade, Praha, London, Barcelona, Moskwa, Afghanistan.
  • Mountain : Papandayan, Gede Pangrango, Bromo, Mahameru, Rinjani.

TO DO BEFORE I DIE

  •  Write A Book About Anything
  •  Have A Bookstore Or Library
  •  Come To Makkah & Madinah
  •  Play A Guitar Fluently
  •  Have A Form Of Investment
  •  Bungee Jumping, Hiking

April 16, 2015

Yang Aku Bisa & Tidak Bisa

Gambar diambil dari tokyotimes.org

Kawan, ada yang bisa aku lakukan
Ada yang tidak bisa aku lakukan
Maka kalian bijaklah menilai
Karena tak di semua hal aku lihai

Kawan, ada yang bisa aku katakan
Dan ada pula yang memang harus ku sembunyikan
Maka kalian pandailah mengerti
Karena tak semua hal harus ku bagi

Teman, ada kalanya aku serba tahu
Ada kalanya aku juga kurang ilmu
Maka kalian genggamlah jemariku
Berjalan bersisian saling berguru

Teman, ada kalanya aku ringan membantu
Pun ada kalanya aku sangat angkuh
Maka kalian janganlah mengeluh
Nasehati & beritahu aku saat kalian tak setuju

Senayan, Jakarta.
12:03 PM

Translate

Popular Posts