Featured Article
Latest Post

Agustus 10, 2015

Ekspresiin Gaya Lo di Inside Out Studio

Foto, difoto atau memfoto merupakan sekumpulan hal yang lumrah dari masyarakat sosial media sekarang ini. Mereka yang menggenggam kamera cemerlang ditangannya biasanya hobi memfoto, mereka yang berwajah photogenic biasanya hobi difoto, lantas mereka yang berwajah pas - pasan biasanya hobi memfoto dirinya sendiri alias narsis. Halah...

Masih berkaitan dengan foto, disuatu siang yang sejuk di mall tempat kumpulnya anak gaul jakarta Senayan City, kami berempat, staf - staf cantik Nexmedia, yang hobinya memenangkan hal yang besar dengan usaha yang sekecil - kecilnya *OkeIniHukumEkonomi* kami, lagi - lagi, melakukan window shopping usai makan siang dikantin kesayangan B2.

Lihat kanan, lihat kiri, tiba - tiba aku menangkap booth studio foto seperti studio foto Ant Man beberapa waktu lalu. Basa - basi bertanya bagaimana caranya agar bisa ikut berfoto didalamnya, Mas - Mas studio foto Inside Out dengan senang hati menjelaskan, ditambah embel - embel hadiah pin gratis bagi siapa saja yang mengupload fotonya di twitter atau instagramnya, dan hadiah mingguan gratis tiket nonton film Inside Out dari Disney Film yang akan tayang 19 Agustus 2015 nanti. *BantuPromosi*

Lalu?
Lalu apalagi?
Ya kami berempat berfoto 5x jepret yang hasilnya bisa dilihat dibawah ini...

Pardon our silly faces. Don't try this at home ya!

Bagaimana? Kurang jelas? Oke baiklah, mari kita perbesar...

Ceritanya sih ekspresi takut tapi kenapa si jilbab kuning malah senyum

Entah ini ekspresi apa~

Happyyyyyyyyyy!

UPDATED :

Oke, sedikit info. Buat kalian yang ingin berfoto di studio #InsideOutID bisa mengunjungi booth-nya di mall Senayan City, Jakarta lantai Ground. Kalian bisa berfoto sebanyak yang kalian mau sampai bingung mau gaya apalagi seperti kami dan fotonya nanti akan dikirimkan ke email kalian atau via whatsapp. Seperti ituuu...

Bergaya manis demi tiket nonton gratiiiiisss!

Tebak ini ekspresi apa? Kaget? Hampir. Takut? Ya! Benar

Udah keliatah belum ekspresi marahnya?

Ceritanya muka bete~

Ekspresi senang yang dipaksakan

Muka - muka sedih nunggu tanggal 25 yang masih lama. Halah...
 
Sekian dan terima pujian.

Ant Man VS Ant Women


Ant Man and Ant Women

Hello bloggers!
Setelah lama tidak lagi produktif di blog alias males ngeblog karena kesibukan akan pekerjaan yang merajalela akhir - akhir ini (Halah!), akhirnya aku kembali lagi menulis dan berjanji untuk produktif menulis lagi. HAHAHA... *KeluarDariBayang-BayangMasaLalu*

Jadi begini ceritanya....... *SuaraPianoHorror*
Alkisah, disuatu siang staff - staff cantik Nexmedia yang hobinya nge-mall di Senayan City (Sency), salah satu mall yang katanya gaul di Jakarta, saat itu selepas makan siang kami berempat window shopping di Sency, melirik jam tangan masih pukul 13:00 WIB yang mana menandakan masih jam istirahat untuk kantor kami (Maaf HRD...), kami yang saat itu sedang celingukan di mall mencari Nicholas Saputra tiba - tiba ditawari oleh mas - mas penjaga studio foto Ant Man. Katanya...

Mas Ant Man : "Mbak - mbak cantik mau ikutan foto nggak? Berhadiah tiket nonton loh."

Mendengar kata 'Hadiah' yang identik dengan 'Gratis' kami berempat menghampiri si Mas Ant Man.

Kami berempat : "Maksudnya gimana, Mas?"

Mas Ant Man : "Blablablablablabla......" *MenjelaskanPanjangLebar*

Kami berempat : "Oke Mas..."

Entah pose kami yang kurang greget foto bersama si Ant Man atau muka kami yang memang kurang menarik memang belum rejeki kami, hadiah tiket nonton Ant Man itu entah dimenangkan oleh siapa. Kabar burung menyatakan, tiket tersebut dimenangkan oleh seorang anak manusia keturanan Adam dan Hawa (Yaiyalah, masa keturunan Meganthropus Paleojavanicus). Tapi kami ikhlas, sungguh, kami ikhlas. *Tears* Buat kami, menang kalah bukan masalah, yang penting kami punya kenang - kenangan bersama si Ant Man walaupun sampai detik ini belum nonton filmnya.

Pose kurang sesuai dengan tokohnya, mohon jangan ditiru

Ceritanya mengecil

Mengecil antara bahagia, kaget dan bingung

Bhaaaaaaaaaayyyyy!

Juli 31, 2015

Dering Telefon Sebelum Interview

Aku lupa tepatnya kapan kejadian ini terjadi. Ini bukan tentangku, bukan juga tentang keluargaku atau teman dekatku. Ini tentang seorang pelamar kerja di kantor tempatku bekerja.

Pagi itu sekitar jam 10, aku yang hobi sekali buang hajat di kantor, terburu - buru masuk ke salah satu pintu di dalam toilet. Ada 4 pintu rest room didalam toilet kantorku. Aku ingat, saat itu sepi, tidak ada seorangpun di toilet kecuali aku. Issue - issue horror tentang kejadian di toilet tidak menyuruti semangatku untuk tetap menuntaskan hajat walau dalam hati sebenarnya takut. Tanpa pikir panjang, aku masuk ke pintu nomor 2 dari pinggir. Selang sebentar, 2 orang wanita masuk, 1 diantaranya masuk ke pintu nomor 1 disebelahku, seorang lagi menunggu di westafel sambil bercermin. Menjaga penampilan memang sangat diperlukan saat kamu akan 'mempromosikan' dirimu pada calon kantormu.

 
Picture by Google

"Hallo, iya ibu wa'alaykumsalam, ada apa kenapa ibu menangis?".

"Bu? Hallo ibu masih disana?"

"Aku masih menunggu untuk di interview bu, aku belum bisa pulang sekarang".

"Iya, aku akan segera pulang setalah interview, tapi ibu kenapa menangis??? Tolong jawab aku, bu..."

Wanita bersuara lembut ini tidak sabaran lantaran ibunya tak juga memberi tahu apa yang tengah terjadi. Setengah marah, ia memanggil kakak lelakinya di telefon.

"Abang, ibu kenapa?" Lalu hening panjang.

Aku yang saat itu tengah 'khusyuk' di salah satu bilik toilet, terpaksa ikut mendengarkan. Firasat ku mengatakan, sesuatu pasti telah terjadi pada ayah / adik wanita itu. Aku ikut tegang mendengarkan percakapan wanita itu selanjutnya. Biarpun aku tak kenal dengannya, tapi berita duka membuat kita selalu berempati pada orang jahat sekalipun.

Selang beberapa lama, tangis wanita itu pecah. Temannya terburu - buru keluar toilet menuntaskan hajatnya. Benar saja apa yang aku takutkan. Firasat wanita ada kalanya selalu tepat. Ayah wanita itu meninggal. Wanita itu panik. Dia kalut, tidak tahu harus berbuat apa. Temannya pun ikut panik. Nasib baik sungguh sedang tidak berpihak pada wanita itu & temannya. Mereka berdua terpaksa pulang saat HRD kantorku memanggil mereka untuk melakukan interview.

Aku yang dari awal 'terpaksa' ikut mendengarkan yang terjadi pada dua wanita itu, tiba - tiba lemas & menangis. Membayangkan kalau hal buruk itu terjadi padaku. Tidak. Aku tidak mungkin sekuat wanita itu yang tidak pingsan seketika & segera pulang mengetahui ayahnya telah tiada. Segera ku hapus airmata ku, berjalan gontai kembali ke meja kerja sambil berdoa semoga ayahku selalu dilindungi Allah SWT dimanapun ia berada.

Juni 12, 2015

Malang, May 2015

Silahkan duduk manis dan ikuti ceritanya. Biarkan aku membawamu ke Timur Jawa, Malang, dan membuatmu mengenalnya lebih dekat.

14 May 2015, pukul 2:42 PM di Stasiun Pasar Senen Jakarta. Aku, seorang temanku, dan tiga sepupuku terburu - buru mengantri untuk pengecekan tiket di pintu stasiun karena kereta kami sudah menunggu dan siap berangkat. Tidak lucu rasanya jika kami sampai ketinggilan kereta mengingat hari itu hari yang ditunggu - tunggu berbulan - bulan lalu. Bukan, bukan tanpa sebab kami terlambat begini. Seorang sepupuku yang membawa tiket kami berlima telat datang dikarenakan hujan.
Malang, we're coming...

Kami sudah berada di kereta Matarmaja yang akan membawa kami ke Malang. Senja pukul 5:18 PM di sekitar Subang, Jawa Barat membangunkanku dari tidur pulas sesaat setelah kereta berangkat. Kami berlima terpisah tempat duduk, aku berdua Kak Uni bersebalahan, sedangkan tiga lainnya Kak Farah, Liysa, dan Julia bersebrangan duduk dengan aku dan Kak Uni. Tak ada yang bisa kami lakukan didalam kereta yang menjadi tempat istirahat kami selama 16 jam ke depan. Rasa lapar membuatku membuka mata, lantas membeli nasi ayam kepada penjual makanan didalam kereta., lalu makan, lalu tertidur lagi setelahnya.

Akhirnya, pukul 10:24 PM kami tiba di Semarang. Tak tahan duduk terus membuatku dan Kak Uni keluar kereta saat berhenti di stasiun Semarang Tawang ini. Konyol memang, demi untuk selembar foto di stasiun Semarang Tawang ini membuat aku dan Kak Uni hampir ketinggalan kereta kami. Tapi untungnya nasib baik masih berpihak pada kami. Alhamdulillah.

Malang, here we are! Berpose didepan Stasiun Malang Kota Baru menjadi kewajiban buat kami sebagai kenang - kenangan nantinya bahwa kami pernah menjejakkan kaki di stasiun ini. Please, abaikan muka kusam dan kelelahan kami.

Sesampainya di Malang, kami dijemput dengan buss pariwisata menuju sebuah pusat oleh - oleh. Disepanjang jalan menuju Pusat Oleh - Oleh Brawijaya, kami disungguhkan dengan pemandangan apik Kota Malang dengan jalan - jalannya yang rapih & bersih. Sepanjang kepala menoleh kiri - kanan tampak bangunan Universitas - Universitas kenamaan di Malang, satu yang paling bagus bangunannya & aku ingat, Universitas Islam Negeri Malang.

Woohooo! Inilah selfie pertama kami berlima setelah mandi & bersih - bersih di Malang. Penginapan kami terletak di daerah Batu, hanya perlu berjalan 2 menit untuk menuju BNS, Batu Night Spectacular dan Batu Zoo. Sayang, kami hanya sempat ke BNS mengingat waktu dan dana yang terbatas.
Dan inilah tiket masuk BNS dan Lampion Garden didalamnya. Sengaja kami abadikan sebagai kenang - kenangan.

This is it, Batu Night Spectacular (BNS) Malang!
Berpose didepan pintu masuk sebuah tempat wisata sudah menjadi keharusan setiap kali kami berwisata ke suatu tempat. Bukan... Bukan untuk ajang pamer. Hanya untuk mengingatkan diri sendiri bahwa setidaknya kami pernah menginjakkan kaki disana.

Anyway, selamat menikmati foto -foto dibawah ini. Dimana kesemua fotonya diambil saat kami berada di BNS. Aku & Kak Uni sempat menaiki sebuah wahana, Sepeda Gila namanya. OMG jangan ditanya seberapa histerisnya aku saat menaiki wahana itu. Turun dari Sepeda Gila, wajahku pias, pucat & langsung muntah seketika. Boom!











Puas bermain & berfoto di BNS, kami bergegas ke Pasar Tumpang menunggu jeep yang akan membawa kami ke Bromo untuk melihat sunrise.


Apa yang mencolok dari kedua foto diatas? Wajah lelah & berminyak kami? Oh jangan ditanya kalau hal itu. Lipstick merah kami? 100 buat kamu! Kedua foto diatas diambil kira - kira menjelang dini hari. Dengan wajah carut marut kami tetap mengabadikan moment menunggu jeep berjam - jam yang akan membawa kami ke Bromo. Lipstick merah menyala menjadi penyelamat! Thanks lipstick... Kau membuat wajah kami setidaknya terlihat lebih segar. HAHAHA




Seruni Point! Here we are! Penanjakan Seruni Point ramai sekali subuh itu. Ratusan orang menyiapkan gadget terbaiknya untuk menangkap kemunculan sang surya. Sayang, yang ditunggu - tunggu malah mengecewakan kehadirannya. Kemunculan sang surya pagi itu tidak se-spectacular kemunculan sang surya saat aku mendaki di Gunung Papandayan, Garut. Matahari Bromo malu - malu ragu menampakkan dirinya, membuat keluhan dan desahan panjang kami semua yang subuh itu berjalan terkantuk - kantuk, ditemani dengan kuda - kuda bromo dan kotorannya yang membuat udara pagi tercemar.

Selesai melihat sunrise di Penanjakan  Seruni Point, kami bergegas kembali ke jeep untuk kemudian menuju Kawah Bromo, Padang Savana, & Bukit Teletubbies. Siapkan sunblock, masker & kacamata hitam untuk kalian yang berencana kesana! Demi Tuhan... Bromo saat itu seperti oven & kami didalamnya seperti terpanggang hidup - hidup. Tapi memang dasarnya kami banci kamera narsisnya selangit, tak perduli udara sepanas apapun kami tetap rela turun dari jeep berpanas - panasan demi mengabadikan foto diri dengan latar Bromo yang manis.

















Sampai jumpa lagi, Malang...

Translate

Popular Posts