Featured Article
Latest Post

Oktober 02, 2016

Tak Banyak

Tak banyak yang bisa dikenang dari kisah yang membuat mata seringnya berkunang-kunang.
Dulu, ada untai harapan dan mimpi yang semakin semerawut ditinggal pemiliknya.
Dulu juga, ada laki-laki yang tak ragu menapak menjauh walau sesekali melihat sambil lalu.
Tapi lebih pasti, ada perempuan yang menampakkan diri serupa malaikat padahal hatinya hancur karena khianat.

Tak banyak yang seperti mereka,
Masih bisa sesekali bercanda, lalu pergi tanpa tersisa berhadap kembali ada masa.

Lebih banyak yang seperti kita,
Tersenyum kaku ketika bertemu, padahal sejatinya didalam hati rindu.

Tak banyak yang seperti mereka,
Berani memulai lembar baru walau diselingi ragu, tak lagi takut terluka karena telah mencoba.

Lebih banyak yang seperti kita,
Bersikap acuh dan berbicara singkat kala berjumpa, padahal pinta pada yang kuasa selalu saja tentang dirinya.

Tak banyak yang bisa kita tampakkan sedihnya,
Kita sering biasa saja menertawakan dan menyebut nama satu sama lain di depan mereka,
Tapi jauh di dalam,
Kita masih saling mendoakan dalam diam.


...


Ditulis ulang dengan sedikit gubahan dari fallaadinda.com dengan judul yang sama.

September 27, 2016

REVIEW: Pengalaman Berbelanja Buku di Gramedia.com

Siapa diantara kalian yang lebih suka belanja online dibandingkan datang ke tokonya langsung?
Saya salah satunya.
Termasuk juga untuk buku atau novel - novel yang saya beli tiap bulannya.

Yes. Setiap bulannya saya memang menyisihkan pendapatan untuk membeli buku dan novel - novel, bukan karena hobi, juga bukan karena laper mata saja. Bagi saya membaca adalah kebutuhan, membeli buku dan novel juga termasuk salah satu kebutuhan saya setiap bulannya.

Iya saya tau. Kita tidak harus selalu membeli buku dan novel untuk memuaskan kebutuhan membaca, ada beberapa aplikasi pinjam buku online lainnya yang bisa diakses gratis melalui smartphone. Ada juga buku dan novel lama yang bisa di download secara gratisan melalui googling sana-sini. Pun kalian bisa meminjam ke teman atau perpustakaan terdekat dari tempat tinggal kalian. Tapi bagi saya, membeli buku dan novel setiap bulannya lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan, ada apresiasi disana. Apresiasi saya atas penulis - penulis melalui membeli karyanya yang asli (read: buku fisik).

Terlebih, buat saya, sebuah buku & novel bukanlah hanya seonggok tulisan diatas kertas beratus-ratus halaman yang bisa memuaskan pembacanya, ada pengalaman hidup seseorang disana, entah penulis atau seseorang yang dikenalnya dengan baik, ada hari - hari gelap tanpa inspirasi yang kerap membuat resah si penulis, ada malam - malam panjang yang dilalui dengan bergadang demi menyelesaikan kalimat demi kalimat sampai menjadi bab saat inspirasi sedang berlimpah ruah. Ada nilai yang melebihi nominal buku dan novel itu dijual... Itulah mengapa saya selalu menyisihkan sebagian pendapatan untuk membeli buku dan novel apapun genrenya.

Tapi, ada kalanya saya juga lebih menyukai membaca buku elektronik alias e-book. Pilihan saya biasanya jatuh pada iJak.


Oke, balik lagi ke topik pembicaraan awal.
Beberapa waktu lalu saya membeli buku melalui gramedia.com. Ini yang pertama kalinya saya berbelanja disana, juga bukan untuk yang terakhir kalinya. Biasanya saya selalu menyempatkan datang langsung ke Gramedia saat weekend atau Toko Buku Gunung Agung (TGA) yang letaknya bersebelahan dengan kantor. Tapi novel yang saya inginkan rupanya tidak tersedia di TGA Senayan City, pun weekend tidak sempat ke Gramedia karena banyaknya kegiatan dan acara keluarga. Jadi, minggu lalu saya memutuskan berbelanja di gramedia.com setelah mendapat diskon di email sebesar Rp 50,000 untuk pembelian diatas Rp 100,000 membaca review pembeli lain disana.

Seperti yang saya katakan, ini yang pertama kalinya saya membeli novel di gramedia.com, tapi juga bukan yang terakhir kalinya. Pengalaman berbelanja di gramedia.com menyenangkan, walaupun status order tertulis 'complete' di account kita padahal buku belum saya terima. Nah lho?

Gramedia.com mengirimkan email detail pemesanan melalui email kita. Setelahnya, mereka akan mengirimkan lagi email berupa nomor invoice untuk detail pemesanan kita dan mengingatkan untuk melakukan pembayaran. Setelah melakukan pembayaran, kita diminta melakukan verifikasi pembayaran dan menunggu sampai pembayaran kita diterima atau 'accepted'. Saat status pembayaran kita sudah 'accepted, ini yang agak mengesalkan. Online shop lain biasanya akan memberi tahu kelanjutan prosesnya seperti gambar berikut ini di lazada, ini memudahkan tentu saja bagi customer, mengetahui detail pesanannya dan tidak khawatir barang tidak ada atau direfund.

Lacak Pesanan di Lazada

Online book shop lainnya juga seperti bukabuku.com mengabari saya via telepon saat salah satu pesanan saya tidak tersedia dan harus menunggu sedikit lebih lama. Tapi tidak dengan gramedia.com. Penasaran dengan kelanjutan status 'accepted', saya yang tidak sabaran akhirnya mengirimkan email ke customer service mereka dan menanyakan status pesanan saya seperti dibawah ini :

My email to gramedia.com custservice

Tidak ada detail status pelacakan pesanan di account gramedia.com (seperti halnya di lazada), tombol track order berfungsi hanya jika barang sudah di pick up oleh JNE, sebelum itu mereka hanya mengatakan order complete, pun juga tidak ada telepon atau email mengenai kelanjutan pesanan, jadilah saya melayangkan email kepada cust service mereka. Syukurlah mereka responsif, tidak berapa lama email saya dibalas dan mereka mengabarkan bahwa salah satu pesanan saya tidak ada ditempat dan harus dicarikan di gudang supplier mereka sehingga membutuhkan waktu tambahan lagi untuk penyiapannya. Lega dan juga sedikit kesal. Lega karena akhirnya saya tau status pesanan saya, kesal karena mengapa mereka tidak segera mengabarkan sampai saya akhirnya berinisiatif menanyakan sendiri via email?

Lagi, ada beberapa buku dan novel di gramedia.com yang tidak tersedia detail atau deskripsi tentang isi dari buku atau novel tersebut (contoh: Negeri Para Bedebah by Tere Liye). Website malah menyediakaan fitur zoom in cover buku yang mana saya rasa tidak perlu. Sinopsis novel atau deskripsi tentang buku sangatlah diperlukan karena biasanya menentukan jadi tidaknya seseorang membeli -kecuali jika orang tersebut sudah mengetahui isi/sinopsis novel tersebut dan memang berniat membeli-. Ayooo lah gramedia.com hilangkan fitur zoom in untuk bukunya, seperti review user lainnya, saya lebih setuju jika diganti dengan menampilkan beberapa halaman awal buku seperti epilog jika pada novel, atau bab 1, akan lebih membuat calon pembeli penasaran sepertinya.

Lainnya, saya tidak mengalami masalah berbelanja di gramedia.com. Pesanan saya sampai sesuai waktu yang dijanjikan. Itu mengapa saya katakan, ini memang yang pertama kalinya, tapi ini juga bukan yang terakhir kalinya.

Detail pesanan di gramedia.com

Kalau kalian bagaimana? Punyakah pengalaman serupa berbelanja buku di online book shop tertentu? Boleh share di komen, siapa tau bermanfaat untuk saya dan pembaca lainnya.

Juni 22, 2016

TAKLIM: Rahasia Sukses Raih Rezeqi Berkah Melimpah (Part I)

Assalamualaykum, Bloggers.
Apa kabar? Masih kuat puasanya? Sudah bolong berapa hari? Saya delapan hari, biasa tamu bulanan. Tidak terasa ya sekarang sudah hari ke-17 berpuasa, sedih kalau diingat Ramadan segera berakhir, namun THR belum juga kelihatan hilalnya kualitas puasa kita belum juga meningkat. Duh!

Selama bulan Ramadan ini setiap minggunya di hari rabu kantor saya SCTV Tower alhamdulillah selalu mengadakan taklim dengan mengundang ustad maupun ustadzah untuk berceramah selepas dzuhur. Alhamdulillah sekali bukan Mengingat 1/3 dari keseharian kita dihabiskan di kantor?

Jika menilik dari judul postingan, 'Rahasia Sukses Raih Rezeqi Berkah Melimpah (Part I)' maka apa yang akan saya tuliskan disini adalah isi dari taklim yang baru saja saya ikuti bersama Ustad Boni Shalehudin yang menggagas konsep SPIRITUAL CAPITAL. Beliau juga menulis 2 buah buku (Sukses Mulia is My Life & Spiritual Capital) yang salah satunya (Sukses Mulia is My Life) masuk dalam rekor MURI karena ditulis kurang dari 24 jam. Kedua bukunya juga turut dihadirkan saat taklim, siapa tau ada jamaah yang berniat membaca & mempelajari lebih lanjut tentang Rahasia Sukses Raih Rezeqi Berkah Melimpah karena pastinya  taklim yang hanya 1 jam sangat kurang.

Saya dan ibu-ibu rempong datang mungkin agak terlambat, lalu kami duduk manis dibarisan paling depan untuk menghindari kantuk yang biasanya menyerang manakala kita sedang mendengarkan ceramah. Taklim dibuka dengan pertanyaan:

'Tahukah ibu-ibu sekalian kegiatan apa yang menghabiskan 1/3 dari hidup kita?'

'Bukan sholat, bukan puasa, bukan juga mengaji'

'Saya tidak akan membahas tentang sholat, puasa ataupun mengaji sekarang ini. Ustad/ustadzah lain mungkin sudah membahasnya, tapi kali ini kita akan membahas tentang kegiatan yang menghabiskan 1/3 dari waktu hidup kita.'

'Siapa yang tahu?'

Ustad Boni mengawali taklimnya dengan pertanyaan yang berapi-api. Sontak, jamaah sekalian langsung memperhatikan. He got jamaah's attention! Konon, menurut ilmu presentasi yang pernah saya pelajari saat di bangku SMA, cara instan mendapatkan perhatian audience saat presentasi salah satunya adalah dengan mengajukan pertanyaan ataupun pernyataan yang mengundang tanya dan membangkitkan rasa ingin tahu audience dengan kata lain meminta audiens untuk terlibat atau untuk ikut melakukan sesuatu. So, he won the first minute of his presentation!
 
'Adalah BEKERJA kegiatan yang menghabiskan 1/3 dari hidup kita.'

'Lantas apa yang terlintas di pikiran ibu-ibu saat mendengar kata bekerja?' Beliau bertanya lagi, melibatkan audience-nya untuk terlibat dalam materi ceramahnya.

'Capek.' celetuk seorang ibu disebelahku.
'Gaji.' temanku Mbak Harum menjawab.
'Bosan.' Ibu lain dibelakangku berceletuk.
'THR.' Semua yang hadir tertawa.
'Tanggung jawab.'
'Melakukan sesuatu untuk perusahaan'.
Berbagai gambaran lainnya tentang bekerja bermunculan dari para ibu-ibu.

'Malas, capek, bosan, jenuh, merasa kurang dihargai adalah hal - hal yang kita rasakan jika kita bekerja selama ini untuk perusahaan. Mengapa begitu?'

'Apalagi jika income istiqomah setelah bertahun-tahun kerja sedangkan kenaikan gaji hanya mengikuti inflasi.'

'Itukah yang ibu-ibu rasakan?'

'Padahal sejatinya kita ingin bekerja dengan giat sehingga tidak ada lagi istilah I Hate Monday dan Thank God Its Friday. Kita ingin bekerja dengan semangat yang sama setiap harinya sehingga rezeki jadi berlimpah dan hidup jadi bermakna.'

'Seperti itukah yang ibu-ibu inginkan?'

'Mau saya beritahu bagaimana caranya agar bekerja tetap semangat setiap harinya sehingga mendatangkan rezeki berkah berlimpah dan hidup jadi lebih bermakna?'

'Mau saya beritahu caranya?' Jamaah serentak menganggukan kepala.
 
'Siapa yang mau bekerja dengan giat setiap harinya sshingga mendatangkan rezeki berkah berlimpah dan hidup jadi lebih bermakna? Angkat tangan kalian tinggi-tinggi jika ingin.' Kami semua mengangkat tangan malu-malu. Ustad mengulangi pertanyaannya dengan meminta kami mengangkat tangan lebih tinggi jika memang ingin. Kami pun melakukannya.

Siapa yang akan mengantuk jika mendengarkan ceramaah yang aktif melibatkan audience-nya ditambah wajah ustadnya yang enak dilihat  ditambah semangat ustadnya sendiri yang berapi-api ? Saya dan ibu-ibu rempong sampai menegakkan duduk, padahal dilain waktu biasanya kami duduk bersandar ke kursi sambil sesekali menguap.

'Baca slide yang akan saya tampilkan ini dengan lantang sambil bangun dari duduk ibu-ibu sekalian jika ingin bekerja dengan giat setiap harinya sehingga mendatangkan rezeki berkah
berlimpah dan hidup jadi lebih bermakna.'
Slide lalu berganti dan kami diminta membacanya.

'STOP BEKERJA UNTUK PERUSAHAAN.' Begitu tulisan yang tertera di slide.

Semua jamaah tertawa, sebagian ada yang berkata 'mana mungkin', sebagian lagi geleng-geleng kepala. Staff HRD yang hadir disitu pun tertawa dan terheran-heran. Saya? Saya diam, tidak membacanya dengan lantang sambil berdiri seperti yang di perintahkan, namun membacanya dalam hati. Diam-diam saya berfikir, 'tentu saja! tentu saja selama ini saya salah karena bekerja untuk perusahaan bukan BEKERJALAH KARENA ALLAH.

Picture from http://spiritualcapital.id/

'Mengapa kita perlu bekerja karena Allah bukan bekerja untuk perusahaan?'
'Ada 2 hal yang membuat kita perlu bekerja karena Allah:

1) KARENA ALLAH MAHA PEMBERI REZEKI

Bahwasannya, perusahaan tempat kita bekerja hanya wasilah, Allah lah yang memberi rezeki bukan perusahaan. Gaji tiap bulan yang kita terima dari mesin ATM, sejatinya belum tentu rezeki kita. Sebagai contoh: Kita ambil gaji, taruh di tas/dompet lalu ke mall, lalu dompet/tas itu hilang terjatuh/dicuri orang, itu berarti uang gaji kita bukan rezeki kita. Contoh lain: Kita gajian, kita belikan hp baru, lalu hp itu hilang, maka gaji tersebut pun bukan rezeki kita.

Perumpaan nasi. Orang indonesia mayoritas mengatakan belum makan kalau belum makan nasi. Nasi dihasilkan dari beras, beras dihasilkan dari padi, padi dihasilkan oleh petani. Manakala Allah tidak menurunkan hujan, makan padi akan gagal dan tidak menjadi beras. Allah lah yang maha memberi rezeki, tidak ada yang bisa selain Allah.

Perumpaan lain, (ini kisah nyata seorang mantan direktur Balai Kartini/Sarbini, salah lupa namanya saat ustad bercerita tadi, sebut saja Budi) Budi seorang pebisnis yang sukses, siapa yang tidak mengenal Budi? Muda, mapan, karir cemerlang, masa depan cerah. Suatu ketika Budi pulang kekampung halaman bertemu ayah ibunya.

Ayahnya mengatakan,
'Nak, engkau sukses karena doa ayah ibumu. Ayah dan ibumu bersimpuh tengah malam mendoakan kesuksesanmu.'
Namun Budi mengelak,
'Tidak ayah, kesuksesanku tidak ada hubungannya dengan apa yang kau lakukan. Kesuksesanku hasil dari kerja kerasku. Aku belajar diluar negeri, berguru langsung dengan ahli-ahli bisnis dunia, itu yang membuatku sukses seperti sekarang.'
Berdebatlah Budi dengan ayahnya, tak lama ia kembali ke Jakarta. Sesampainya di Jakarta, Budi mendapat balasannya. Karirnya hancur, milyaran uangnya habis karena batalnya pemesanan dari luar negeri. Budi sudah berhutang milyaran untuk bahan material pesanannya namun batal. Pabriknya pun kebakaran.

Apa yang bisa kita petik dari kisah Budi?

إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh.” (QS. Adz Dzariyat: 58).

Kalau Ayah berkata tidak, maka rezeki yang sangat besar yang sudah didepan mata kita tidak akan menjadi rezeki kita.

Kisah lain yang diceritakan ustad Boni adalah tentang suatu Bani yang hendak menemui Rasulullah SAW. Ditengah perjalanan di gurun pasir, Bani ini kehabisan perbekalan sedangkan perjalanan menemui Rasulullah SAW masih jauh. Mereka memutuskan seorang pemuda diantara mereka untuk menemui Rasulullah SAW dan meminta bantuan makanan. Berjalanlah pemuda ini menuju Rasulullah SAW, akan tetapi ditengah perjalanan ia mendengar Rasulullah SAW mendapatkan ayat dari Allah SWT:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezkinya” (QS. Huud: 6)

Pemuda ini berfikir, kaum mereka lebih tinggi dari binatang melata jika Allah SWT saja memberikan rezekinya pada binatang melata, maka kaum yang tengah menunggu bala bantuan di tengah gurun pasir pun pasti mendapat rezeki. Kembali lah pemuda ini berjalan menuju kaumnya dan menyampaikan tentang ayat Allah SWT tersebut. Keesokan harinya, bala bantuan datang untuk mereka. Mereka bisa melanjutkan perjalanan menemui Rasulullah SAW dengan membawa sisa perbekalan mereka. Saat bertemu Rasulullah SAW mereka berterima kasih mengira bantuan itu suruhan dari Rasulullah SAW, padahal bantuan itu sejatinya datang atas kehendak Allah SWT.

2) KARENA ALLAH MAHA ADIL

Alkisah, seorang kepala rumah tangga di zaman Imam Syafi'i mengadukan perihal kehidupan rumah tangganya yang tidak harmonis & anak-anaknya yang susah sekali dinasehati. Imam Syafi'i bertanya,

'Apakah kamu bekerja?'
'Ya, saya bekerja.'
'Kalau begitu, datangi tuanmu dan minta turunkan gajimu.'

Bapak ini mendatangi tuannya dan meminta gajinya diturunkan, seumpama 5 dirham menjadi 3 dirham. Kembali lah ia kerumahnya dan menemukan kehidupannya belum juga membaik, rumah tangganya masih belum harmonis & anak-anaknya masih susah sekali dinasehati. Kembali lagi ia kepada Imam Syafi'i dan Imam Syafi'i pun kembali memberikan nasehat yang sama, yaitu menyuruh Bapak ini kembali kerumah tuannya dan meminta turunkan gajinya. Sang Bapak bertemu tuannya lagi, gajinya diturunkan lagi dari 3 dirham menjadi 2 dirham. Kembali lah ia kerumahnya. Lalu apa yang didapatkan? Tak lama, keluarganya kembali harmonis dan anak-anaknya menjadi anak-anak baik yang penurut.

Hikmah yang bisa kita ambil dari kisah ini adalah: Bahwasannya ada keberkahan dan keridhoan Allah dalam rezeki kita. Saat Sang Bapak bergaji 5 dirham lalu kelurganya tidak harmonis, lalu gajinya turun menjadi 3 dirham namun keluarganya belum juga kembali harmonis. Namun saat gajinya 2 dirham keluarganya menjadi harmonis. Dapat kita simpulkan, saat Sang Bapak bergaji 5 dirham namun kualitas kerja dia sebenarnya hanya 2,5 dirham maka Allah mencabut keberkahannya melalui keluarganya yang berubah tidak harmonis. Namun saat Sang Bapak bergaji 2 dirham, dan keluarganya kembali harmonis, saat itulah Allah memberikan keberkahan pada rezekinya, ia bergaji 2 dirham namun kualitas kerjanya setara 2,5 dirham, Allah memberikan kekurangan rezekinya melalui keharmonisan kembali keluarga dan anak-anaknya.

Seseorang yang bekerja dengan kualitas kerja setara 7juta padahal dia hanya bergaji 5juta, maka Allah akan memberikan kekurangannya melalui hal lainnya.

Kisah lainnya yang diceritakan oleh Ustad Boni adalah tentang kisah SEGELAS SUSU Dr. Howard Kelly yang sangat menginspirasi semua orang. Dari kisah Dr. Howard Kelly kita dapat mengambil hikmah bahwa kebaikan sekecil apa pun tetap berguna, karena setiap kita menabur kebaikan maka akan menuai kebaikan pula. Allah sungguh Maha Adil.